Showing posts with label atmosfer. Show all posts
Showing posts with label atmosfer. Show all posts

Wednesday, August 11, 2010

Hujan Meteor Perseid Hari Ini

Pernahkah Anda melihat hujan meteor Perseid? Jika belum, jangan lewatkan untuk menyaksikan keindahannya pada Kamis (12/8) malam ini dan Jumat (13/8) besok. Menurut peneliti senior Astronomi dan Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan), Thomas Djamaluddin, hujan meteor Perseid yang berlangsung 7-15 Agustus, akan mencapai puncaknya pada 12-13 Agustus mendatang.

Untuk bisa melihatnya, masyarakat Indonesia dari Aceh sampai Papua bisa melongok di langit arah timur laut. Setiap menit bakal jatuh satu sampai dua meteor. Puncak hujan meteor Perseid berlangsung mulai pukul 02.00-05.00 dini hari waktu setempat atau hingga menjelang subuh.

Yang menarik, peristiwa itu bisa disaksikan langsung tanpa perlu memakai teleskop. Sepanjang langit cerah, tidak terganggu polusi cahaya, dan medan pandangan tidak terhalang, Anda bisa menyaksikannya.
Penduduk di seluruh wilayah Indonesia bisa menyaksikan hujan 50-80 meteor per jam itu, atau 1-2 meteor per menitnya mulai 12 Agustus hari ini. “Ukurannya butiran pasir, sebentar juga habis terbakar (di atmosfir),” kata dia.

Menurut Direktur Observatorium Bosscha Hakim L. Malasan, hujan meteor Perseid merupakan satu dari delapan hujan meteor yang diharapkan muncul setiap tahun. Perseid selalu muncul setiap tahun di bulan Agustus.

Hakim mengatakan, hujan meteor itu terjadi karena bumi setiap tahun sesuai lintasannya menabrak sisa debu dari ekor komet Swift-Tuttle. Komet itu diperkirakan sangat besar, dengan ukuran garis tengah sekitar 200 kilometer. “Bisa dibayangkan debu ekornya itu banyak dan mengenai atmosfir bumi,” katanya. Kemungkinan baru dekat dengan bumi pada tahun 2100-an.

copy paste dari metrotv news

Thursday, August 5, 2010

Benarkah Terjadi 'Tsunami Matahari'


Sejumlah situs berita mancanegara memberitakan ancaman 'tsunami matahari' yang akan menghantam bumi hari ini, Selasa, 3 Agustus 2010. Benarkah gelombang akibat ledakan besar di atmosfer matahari itu akan terjadi? Profesor Riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, membantah ancaman itu. "Tidak ada tsunami atau badai matahari saat ini," katanya seperti dikutip dari blog pribadinya.

Menurut Thomas, kejadian sebenarnya adalah terjadi ledakan atau flare kecil di matahari pada 1 Agustus 2010 sekitar pukul 16.00 WIB. Bila itu mengarah ke bumi, dampaknya kemungkinan baru terasa sekitar 3 Agustus, tetapi tidak signifikan.
Kejadian pada 1 Agustus tidak berdampak signifikan pada bumi. "Kalau pun ada hanya sedikit gangguan ketinggian orbit satelit dan tampaknya cahaya aurora di langit sekitar kutub karena interaksi partikel matahari yang terperangkap medan magnet bumi dengan atmosfer bumi."

Tsunami matahari berbeda dengan badai matahari. Tsunami matahari adalah ledakan di permukaan matahari yang dampaknya hanya terasa di sekitar titik ledakan. "Ibarat terjadinya gempa di laut, maka gelombang tinggi terjadi menyebabkan tsunami di sekitar episentrum gempa tesebut," katanya.Ia menambahkan, gelombang tsunami terjadi pada plasma atau gas panas di permukaan matahari sehingga tidak akan berdampak ke bumi. Sedangkan ledakan matahari atau lontaran massa matahari yang dikenal sebagai badai matahari bisa berdampak ke bumi ketika badainya berskala besar dan mengarah ke bumi.

***

Berdasar penelitian National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), yang disponsori lembaga antasariksa Amerika Serikat, NASA, badai matahari terjadi ketika muncul flare atau ledakan besar di atmosfer matahari dengan daya supertinggi. Badai matahari bisa menyebabkan lonjatan tenaga lisrik hingga miliaran watt. Bila sampai ke bumi, pancarannya akan mempengaruhi medan magnet bumi yang selanjutnya berdampak pada sistem satelit, listrik, dan frekuensi radio. Bumi terancam kehilangan daya listrik.

Badai matahari merupakan siklus biasa yang terjadi setiap 11 tahun. Namun, siklus itu diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2012-2013. Badai matahari pernah melanda bumi pada 1 September 1859. Namun, kala itu tak terlalu berdampak karena kehidupan di masa itu belum ditopang listrik.
Berdasar prediksi tersebut, sejumlah badan antariksa telah berupaya menyiapkan sejumlah strategi menghadapi badai matahari. Strategi untuk mengantisipasi hilangnya daya listrik, satelit, dan frekuensi radio yang menopang kehidupan masyarakat modern masa kini.


copy paste dari vivanews

Add to Google Reader or Homepage

Add to The Free Dictionary

Technology Blogs

Powered by  MyPagerank.Net Powered by FeedBurner

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More